Bau Nyale (Tangkap Nyale)
Kaabupaten Lombok Tengah adalah salah satu daerah
Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Di daerah ini terdapat
sebuah kawasan wisata pantai yang sangat menarik dan ramai dikunjungi oleh para
wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kawasan tersebut adalah
Pantai Seger Kuta, terletak di bagian Selatan pulau Lombok, kira-kira 65
kilometer dari kota Mataram.
Selain keindahan alamnya, Pantai Seger Kuta juga
memiliki daya tarik lain yang tidak kalah eksotisnya bagi para wisatawan.
Setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret, di tempat ini
diselenggarakan sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan Bau Nyale.
Tradisi upacara Bau Nyale yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku Sasak sebelum abad ke-16 Masehi.
Tradisi upacara Bau Nyale yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku Sasak sebelum abad ke-16 Masehi.
Kata BAU berasal dari bahasa Sasak yang berarti menangkap,
sedangkan kata NYALE adalah sejenis Cacing Laut (anelida polycaetae)
yang berkembang biak dengan bertelur, yang hidup di lubang-lubang batu karang
di bawah permukaan laut, berkelamin antara jantan dan betina. Binatang ini
hanya muncul sekali dalam setahun di pantai selatan Pulau Lombok yang kemudian
diperingati dengan upacara Bau Nyale.
Pantai Aan yang menjadi salah satu pusat Pesta Bau Nyale.
Pantai Aan yang menjadi salah satu pusat Pesta Bau Nyale.
Gambar bau nyale pd siang hari Gambar
bau nyale pd malam hari
Tradisi ini diawali oleh kisah seorang Putri Raja
Tonjang Baru yang sangat cantik yang dipanggil dengan Putri Mandalika. Karena
kecantikannya itu para Putra Raja memperebutkan untuk meminangnya.
Jika Putri Mandalika menolak pinangan salah satu putra raja akan menimbulkan peperangan. Sang putri mengambil keputusan pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas. Dipercaya oleh masyarakat hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika.
Upacara Bau Nyale selalu dirangkaikan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan tidak ketinggalan pula pementasan drama kolosal Putri Mandalika.
Jika Putri Mandalika menolak pinangan salah satu putra raja akan menimbulkan peperangan. Sang putri mengambil keputusan pada tanggal 20 bulan kesepuluh untuk menceburkan diri ke laut lepas. Dipercaya oleh masyarakat hingga kini bahwa Nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika.
Upacara Bau Nyale selalu dirangkaikan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu), dan tidak ketinggalan pula pementasan drama kolosal Putri Mandalika.
Bagi masyarakat Sasak, Nyale dipergunakan untuk
bermacam-macam keperluan seperti: santapan (Emping Nyale), ditaburkan ke sawah
untuk kesuburan padi, lauk pauk, obat kuat dan lainnya yang bersifat magis
sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Sumber : pak. murdiono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar